Kamis, 28 Januari 2010

Cari kesempatan

Setelah pindah dari rumah Tante Nita aku kos di daerah Taman Sari. Tempat
kosnya cukup enak, lingkungannya juga cocok karena banyak mahasiswa. Tidak
seperti di tempat Tante Nita, di tempatku yang baru ibu kosnya sudah tua
dan sama sekali tidak menarik. Jadi aku sama sekali tidak berharap bisa
menikmati hal-hal romantis dengan ibu kos di sini. Untunglah sebelum
pindah aku dan Tante Nita sepakat tetap saling menguhubungi. Jadi kalau
libidoku sedang tinggi aku langsung pergi ke wartel untuk bikin janji
dengan Tante Nita, biasanya Tante Nita akan langsung menjemputku untuk
pergi berkencan ke Lembang.

Tidak berapa jauh dari tempatku, ada seorang mahasiswi cantik. Angkatannya
beda empat tahun denganku, kuliah tingkat akhir di Fakultas Hukum sebuah
universitas swasta terkenal di daerah Taman Sari. Namanya sebut saja Yani,
aku memanggilnya 'Mbak Yani' karena dia memang lebih tua dariku dan
berasal dari Malang. Untuk ukuran cewek tingginya lumayan, kira-kira 165
cm, cuma beda 3 cm dariku. Rambutnya lurus panjangnya sedikit di bawah
bahu, kulitnya putih dan bodynya bagus banget. Apalagi kalau sedang pakai
jeans dan T-shirt, wow! Kalau dari skala 0 sampai 10 aku bisa kasih dia
nilai 8,7 (Tante Nita cuma 6,8). Hanya sayangnya dia sudah punya pacar.
Tapi sebagai tetangga kami cukup akrab, kadang aku main ke tempat kosnya
sekedar untuk ngobrol dan nonton TV.

Suatu hari ketika aku datang ke tempat kosnya, aku lihat Mbak Yani sedang
duduk termenung di depan kamarnya. Matanya terlihat sembab seperti habis
menangis. "Lho Mbak, ada apa kok kayaknya baru menangis? Belum dikirimin
duit yaa...?" aku mencoba mengajaknya becanda seperti biasa. Mbak Yani
hanya menggeleng diam. Wah... kayaknya serius nih... akupun terdiam
beberapa saat sambil mencoba mencerna situasi.

"Ya udah Mbak, aku minta maaf... kalau Mbak lagi pengen sendiri aku balik
dulu ya..."
"Nggak apa-apa Don, kamu kalau mau nonton TV disini aja, nggak usah
pulang... sekalian kamu temenin mbak ya.." katanya sambil mempersilahkan
aku masuk.

Kasihan Mbak Yani, baru sekali ini dia kelihatan sedih sekali. Tentu ada
persoalan yang cukup besar buatnya. Sambil nonton TV aku mencoba
menghiburnya, "Mbak.. ada masalah apa? Cerita aja ke Doni... biar sedihnya
nggak ditanggung sendiri. Aku sudah menganggap Mbak Yani sebagai kakakku
sendiri kok."

Setelah terdiam beberapa saat Mbak Yani mulai bicara dengan suara menahan
perasaan, "Aku baru putus sama Mas Ary... cowok sialan itu ternyata punya
pacar lagi dan hamil..."

Pelupuk mata Mbak Yani tampak berkaca-kaca.

"Tega-teganya dia berbuat seperti itu, padahal sudah empat tahun kami
pacaran dan aku tidak pernah sedikitpun mengecewakan dia. Apa semua cowok
seperti itu Don?"

"Nggak semua begitu mbak... sudah lupakan saja semua yang sudah terjadi,
Mbak Yani masih punya banyak waktu untuk memulai lagi yang baru. Masih
banyak cowok yang baik dan pantas buat Mbak Yani..." kataku sambil
memegang tangannya. Mbak Yani tampak mencoba tersenyum, manis sekali.

"Mbak gimana kalau kita jalan-jalan naik motorku... biar Mbak Yani nggak
sedih terus gitu... kita minum bajigur di Jalan Supratman yukk," aku
mencoba menawarkan jasa. Mbak Yani mengangguk setuju.

Kamipun meluncur ke Jalan Supratman. Itulah pertama kali aku mengajak Mbak
Yani naik Honda GL-Pro kesayanganku. Kesedihannya perlahan mulai mencair
dan Mbak Yani mulai banyak menceritakan kekesalannya pada Mas Ary, bekas
cowoknya. Aku hanya mengangguk-angguk sambil terus memegang tangannya yang
melingkar di pinggangku.

Sampai di warung bajigur di Jalan Supratman kami langsung mencari tempat
duduk yang enak untuk ngobrol. Aku tahu Mbak Yani sangat butuh tempat
untuk mencurahkan semua kekesalannya. Sambil kami menikmati bajigur dan
gorengan Mbak Yani masih terus bercerita panjang lebar, aku jadi pendengar
yang baik sambil sekali-sekali mengiyakan dan mencoba menghiburnya.

Setelah Mbak Yani puas menceritakan semua uneg-unegnya kamipun pulang.
Sepertinya Mbak Yani betul-betul terlepas dari beban kesedihannya, dia
mulai bisa bercanda lagi seperti biasa. Sepanjang jalan Mbak Yani memeluk
pinggangku dengan erat, kepalanya disenderkan ke punggungku. Aku senang
sekali bisa membuatnya terhibur.

Sampai di rumah kira-kira jam 10 malam, aku mengantar Mbak Yani ke tempat
kosnya. Saat aku mau pulang tiba-tiba Mbak Yani memegang tanganku, "Don,
kamu jangan langsung pulang ya.. temenin Mbak nonton TV sebentar..." Aku
mengangguk.

Tidak seperti biasanya, kali ini Mbak Yani kelihatan begitu manja padaku.
Di ruang TV ia merebahkan kepalanya di pangkuanku. Ah.. ini kesempatan
yang nggak akan datang dua kali pikirku. Sementara tangan kiriku memegang
tangan kirinya, tangan kananku membelai-belai rambutnya yang lembut dan
harum. Suasana malam itu menjadi terasa romantis. Perlahan-lahan naluri
kelaki-lakianku mulai bangkit. Dengan lembut kucium pelipis Mbak Yani, dia
diam saja tapi tangannya meremas tanganku.

Sekali lagi pelipisnya kucium, kali ini Mbak Yani membalikkan wajahnya dan
menatapku. Tanpa pikir panjang aku perlahan-lahan mendekatkan bibirku pada
bibirnya dan kami mulai berciuman. Bibirnya terasa hangat dan lembut
sekali di bibirku.

Mbak Yani melepaskan bibirnya, "Don.. nggak enak disini, kita di kamar aja
ya..."
Kamipun masuk ke kamar dan Mbak Yani langsung mengunci pintu. Masih dalam
posisi berdiri, sambil kubelai rambutnya kembali bibir kami saling
melumat.

Tanganku perlahan-lahan mulai menjelajahi tubuhnya. Saat tanganku
menyentuh payudaranya, Mbak Yani mendadak melepaskan ciumannya, "Don...
jangan..." Tapi dari tatapannya aku merasa kalau Mbak Yani ragu, antara
mau dan malu. Aku hanya tersenyum, lalu bibir kami kembali saling melumat.
Kuulangi lagi tanganku menjalari tubuhnya perlahan-lahan hingga akhirnya
sampai kembali di payudaranya. Kali ini Mbak Yani tidak menolak, malah
bibirnya semakin kuat memagut bibirku dan lidahnya terus melilit lidahku.
Perlahan-lahan kuremas payudaranya dengan lembut. Mbak Yani semakin erat
memelukku dan tangannya juga mulai aktif menggerayangi punggungku. Satu
demi satu kancing bajunya kubuka, tak ada tanda-tanda Mbak Yani
melarangku. Akhirnya tanganku mulai berani masuk ke sela-sela BH-nya dari
bawah.

Ah... betapa empuk dan hangatnya payudara gadis cantik ini. Payudaranya
jelas tidak sebesar punya Tante Nita tapi yang pasti terasa lebih kencang
dan mulus. Ketika jariku mulai menyentuh puting susunya yang mungil Mbak
Yani mulai menggeliat terangsang. Perlahan-lahan kulepas baju Mbak Yani,
lalu kemudian BH-nya. Akupun melepas bajuku sehingga kami berdua berciuman
dalam keadaan telanjang setengah badan.

Mbak Yani kemudian mengajakku ke tempat tidurnya, ia langsung merebahkan
diri dan menarik tanganku untuk berbaring di sebelahnya. Di atas tempat
tidur, sambil bibir kami saling melumat, tangan kananku terus aktif
memainkan payudara dan putingnya. Mbak Yani makin terangsang dan mulai
berdesah-desah keenakan, "Ah...mmh...mmhhh..."

Kemudian tanganku mulai berpindah ke bawah, perlahan-lahan kubuka kancing
dan resleting celana jeansnya. Tanganku mulai menyelinap ke balik celana
dalamnya. Kurasakan bulu-bulu halus disekitar vagina Mbak Yani, kemudian
jariku menemukan belahan vaginanya yang hangat dan mulai basah. Saat jari
tengahku menyentuh klitorisnya, Mbak Yani mendesah kuat tertahan sambil
memegang tanganku, "Mmmhhh.....uuuhh.."

Kepalaku mulai turun ke bawah, ke arah payudara Mbak Yani. Sementara
tanganku terus mengeksplorasi klitoris dan lubang vagina Mbak Yani,
lidahku yang nakal mulai menjilati payudara dan putingnya. Kadang-kadang
putingnya kuemut dan kuhisap sambil kupermainkan dengan lidah. Mbak Yani
terus menggelinjang keenakan sambil tangan kirinya meremas rambutku
sementara itu nafasnya terdengar mulai berat.

"Mbak, aku lepas semua ya...," kataku sambil melepaskan celana jeans dan
celana dalam dari kakinya. Mbak Yani hanya diam pasrah. Aku lalu
melepaskan celanaku sendiri sehingga kami berdua terbaring di tempat
tidurnya tanpa sehelai benangpun. Sejenak kutatapi seluruh tubuh Mbak
Yani, indah sekali. Lekuk tubuhnya nyaris sempurna dan mulus sekali tanpa
cacat sedikitpun. Payudaranya yang berukuran sedang menyembul kencang
dengan putingnya yang mungil berwarna sedikit lebih gelap dari kulitnya.
Sementara itu di vaginanya tampak ditumbuhi bulu-bulu halus yang mencoba
menutupi belahannya yang terlihat basah dan berwarna merah muda.

"Mbak Yani cantik sekali... indah luar biasa..," pujian spontan keluar
dari mulutku. Mbak Yani hanya tersenyum malu, kulihat wajahnya yang putih
berubah memerah. Ah.. Mbak Yani, sekarang nilaimu kutambah jadi 9!

Perlahan-lahan aku mengambil posisi di antara kedua kakinya. Kuangkat kaki
kiri Mbak Yani dan betisnya kujilati, perlahan-lahan jilatanku bergeser ke
lutut lalu ke daerah pahanya. Akhirnya sampailah aku di pangkal pahanya.
Dengan lembut kusibakkan bulu-bulu halusnya dan jari-jariku mulai membuka
belahan vaginanya, sehingga lubang vagina Mbak Yani dan klitorisnya yang
mungil tampak jelas. Langsung kukecup vagina Mbak Yani dan kujilati
liangnya dengan penuh semangat, sementara Mbak Yani tergolek pasrah sambil
memejamkan mata. Aroma vagina Mbak Yani yang khas membuatku semakin
bernafsu. Saat klitorisnya kupermainkan dengan lidahku Mbak Yani mendesah
lagi dan menekan kepalaku dengan kedua tangannya, "Aahhh.. Doni...
Mmhh..."

Tidak sampai 5 menit Mbak Yani mulai tidak tahan dan minta berhenti, "Stop
dulu Don.. Mbak udah nggak tahan... nanti keluar, Mbak mau gantian,
boleh?"

Aku melepaskan kepalaku dari selangkangan Mbak Yani dan pindah berbaring
di sebelahnya. Mbak Yani bangkit memegang penisku dan langsung
menjilatinya sambil tangannya meremas buah zakarku. Mbak Yani tidak
membiarkan satu bagianpun dari penisku yang bebas dari jilatan lidahnya,
semuanya dijilati habis mulai daripangkal penis sampai kepala penis dan
lubangnya. Bahkan sesekali ia menjilati bola pingpongku sampai ke bagian
pangkalnya sehingga menimbulkan rasa geli-geli nikmat yang luar biasa.

Setelah puas dengan lidahnya, ia mulai memasukkan penisku ke dalam
mulutnya. Sambil bibirnya menghisap, Mbak Yani terus mempermainkan batang
penisku dengan lidahnya. Luar biasa, tidak kusangka Mbak Yani yang cantik
dan sehari-hari demikian sopan dan lembut ternyata sangat mahir dalam
mempermainkan penis seorang pria.

Pinggulku tanpa sadar mulai bergerak-gerak mengimbangi rangsangan Mbak
Yani dan aku mulai mendesah-desah ke enakan, "Mmh... Mbak... enak Mbak...
terusin Mbak..." Sementara aku menikmati oral Mbak Yani, tanganku
menyelinap di bawah perutnya dan mulai menjelajahi selangkangannya. Aku
langsung mengusap-usap klitoris Mbak Yani yang sudah sangat basah dan
mengeras dengan jari tengahku.

Tidak berapa lama kemudian badan Mbak Yani terasa mulai bergetar tak
teratur, ia langsung melepaskan penisku dan menarik tanganku dari
klitorisnya. "Doni... masukin sekarang ya... Mbak hampir nggak tahan..,"
katanya sambil merebahkan diri di sampingku dengan nafas yang
terengah-engah.

Aku bangkit, Mbak Yani langsung mengangkat lutut dan membuka kakinya.
Celah vagina Mbak Yani tampak sedikit terbuka dan sudah basah oleh
cairannya sendiri.

"Mbak, kalau Doni keluar di dalam bagaimana?" tanyaku.
"Enggak apa-apa, Mbak baru selesai mens dua hari yang lalu jadi sekarang
masih aman," katanya sambil tersenyum menantang. Ah.. Mbak Yani,
tergeletak pasrah seperti itu membuatnya tampak seksi sekali dan aku
menjadi sangat terangsang. Penisku terasa mengeras dan membesar siap
meledak. Aku ingin segera menindih tubuhnya dan memasukkan penisku ke
dalam vaginanya.

Langsung kuarahkan penisku ke selangkangannya, perlahan kubuka bibir
vagina Mbak Yani dan kepala penisku kuletakkan tepat di atas lubang
vaginanya. Dengan dorongan yang perlahan tapi pasti masuklah seluruh
penisku ke dalam lubang Mbak Yani. "Mmhh....," Mbak Yani mendesah perlahan
sambil menggigit bibirnya. Gila, rasanya enak banget. Dibanding dengan
punya Tante Nita jelas vagina Mbak Yani lebih fresh dan lebih sempit. Aku
merasakan batang penisku dari pangkal sampai ujung seperti dicengkeram
oleh dinding-dinding vagina Mbak Yani. Sambil kucium lehernya, kumasukkan
penisku dalam-dalam dan kutahan bberapa saat untuk meresapi sensasi nikmat
yang diberikan oleh vagina Mbak Yani.

Akhirnya pinggul Mbak Yani mulai bergerak-gerak meminta aku untuk
menggesek-gesekkan penisku. Akupun mulai menggerak-gerakan pinggulku untuk
menancapkan penisku berulang-ulang ke dalam vagina Mbak Yani. Sementara
itu tangan kiriku menggenggam tangan kanan Mbak Yani dan tangan kananku
meremas payudara serta mempermainkan putingnya. Mata Mbak Yani tampak
terpejam dan bibir bawahnya terus digigit menahan nikmat. Kami berganti
posisi berkali-kali, kadang Mbak Yani di atas, lalu kembali aku yang di
atas.

Kira-kira setelah limabelas menit berlalu kurasakan gerakan Mbak Yani
makin lama makin kuat dan desahannya makin sering serta nafasnya semakin
berat. Sementara itu tangannya makin erat memelukku. Kelihatannya Mbak
Yani sudah hampir orgasme dan akupun mulai merasakan dorongan yang sama...
aku sudah hampir kehilangan kontrol.

"Doni.. mmhh... Mbak udah hampir keluar.."
"Doni juga Mbak, kita barengan ya..."
"Mmmh... Doni... Mbak nggak tahan lagi...Aaah..."

Pinggul Mbak Yani terasa menyentak-nyentak ke atas, akupun menusukkan
penisku makin cepat dan makin dalam...sampai akhirnya kenikmatan puncak
itu sudah tidak dapat kami tahankan lagi....

"Donii.... Uuuhhhh... aaahhhhh..."
"Mbak Yani..... Aaaaghhhh......"

Kupeluk Mbak Yani erat-erat dan diapun mencengkeram punggungku dengan
sekuat tenaga, kami orgasme bersamaan dengan penisku tertanam dalam-dalam
di vagina Mbak Yani sambil mengeluarkan seluruh isinya. Sebuah orgasme
yang luar biasa nikmat. Kami berpelukan cukup lama sampai akhirnya aku
mulai merasakan kelelahan akibat orgasme yang intens. Kukecup bibir Mbak
Yani dan aku merebahkan diriku di sampingnya. Mbak Yani terlihat
terengah-engah kelelahan, matanya masih terpejam dan mulutnya sedikit
terbuka.

Kupandangi wajah Mbak Yani yang basah oleh keringat tampak begitu cantik
dan seksi dalam kelelahannya. Tapi tiba-tiba kulihat ada air mata yang
menetes dari kedua ujung matanya. Aku tersadar kalau aku mungkin telah
melakukan perbuatan yang tidak seharusnya kulakukan. Aku telah mengambil
kesempatan dari kerapuhan emosi Mbak Yani saat dia sedang patah hati...

"Mbak... Doni minta maaf mbak... seharusnya Doni nggak begitu sama Mbak
Yani..," kataku sambil membelai rambutnya. Mbak Yani mengusap air matanya
dan menatapku sambil tersenyum.
"Nggak apa-apa Don, Mbak nggak nyesel melakukan ini dengan kamu. Mbak
hanya teringat sama si Ary sialan itu. Mbak sudah menyerahkan segalanya
sama dia dan sampai kami putus Mbak tidak pernah dengan orang lain selain
dia. Tapi ternyata....,"
"Sudahlah... Mbak... nggak usah diingat lagi...," aku spontan meletakkan
telunjukku di mulutnya supaya Mbak Yani tidak terus bicara mengenai bekas
cowoknya.

Aku lega karena bukan aku yang menyebabkannya menangis, langsung kubelai
lagi rambut Mbak Yani dan kukecup lembut bibirnya. Kubiarkan Mbak Yani
merebahkan kepalanya di dadaku sambil kupeluk. Malam itu terasa begitu
indah sekali, sayang sekali aku tidak bisa menginap di rumah Mbak Yani.
Aku tidak ingin Mbak Yani diusir dari tempat kosnya gara-gara aku.

Sejak saat itu hubunganku dengan Mbak Yani menjadi semakin dekat, dan
setiap ada kesempatan kami tidak segan-segan mengulangi lagi apa yang kami
perbuat malam itu. Mbak Yani tidak pernah menyesalinya, apalagi aku. Tapi
hubunganku dengan Mbak Yani tetap seperti adik-kakak, sekalipun sebenarnya
aku mengharapkan bisa menjadi kekasihnya. Tampaknya Mbak Yani masih belum
mau menjalin kisah asmara baru dengan siapapun.

Hubunganku dengan Mbak Yani tidak berlangsung lama karena tujuh bulan
setelah itu Mbak Yani lulus dan kembali ke Malang. Sebelum kami berpisah
Mbak Yani sempat meneraktirku menginap semalam di Hotel Putri Gunung,
Lembang. Katanya Mbak Yani mau punya kenangan indah denganku.

Kami menikmati malam terakhir itu dengan bersetubuh sepanjang malam sampai
kami benar-benar lelah dan tertidur pulas hingga siang. Begitu bangun
tidur kami langsung melakukannya lagi, di tempat tidur, di lantai, dan
juga di bathtub. Kalau kelelahan kami hanya berbaring tanpa busana sambil
berpelukan menunggu energi kami pulih kembali. Kami hanya keluar kamar
untuk makan dan sekadar jalan-jalan di sekitar hotel, setelah itu kami
kembali ke kamar untuk bercumbu, bersenggama, dan menikmati setiap detik
kebersamaan kami yang terakhir. Kami pulang kembali ke Bandung dalam
keadaan lelah dan benar-benar puas.

Lima tahun kemudian, aku menerima sebuah undangan perkimpoian bertuliskan,
"Kepada Adikku Tersayang...." Aku bersyukur ternyata kakakku yang cantik
itu akhirnya menikah juga dengan pria pilihannya. Calon suaminya seorang
pengusaha real-estate. Aku datang ke pesta perkimpoiannya di Malang dan
memberikan selamat serta doa... Mbak semoga suamimu tidak pernah membuatmu
menangis seperti dulu.

Tidak ada komentar: