Jumat, 03 Oktober 2008

Perjalanan Ke alas purwo

Kesalahanku yang paling fatal dalam hidupku adalah mencantumkan nomor HP-ku di setiap email balasanku pada pembaca yang ingin berkenalan denganku. Pada awalnya bahkan aku mencantumkan juga alamat dan nomor telepon rumahku. Karena berakibat sepanjang hari aku menerima banyak telepon, maka pada balasan email berikutnya aku hanya mencantumkan nomor HP-ku disertai persyaratan yang kuajukan. Namun semua itu kurasa kurang efisien karena toh masih banyak pembaca yang nekad menghubungiku walau mereka masih belum memenuhi persyaratan yang kuminta untuk bisa berkenalan denganku. Maka mulai saat ini kuputuskan bahwa aku hanya akan membalas sekali saja email mereka.

Aku juga tidak akan mencantumkan nomor HP-ku. Baru setelah mereka memenuhi persyaratanku, akan kuberikan nomor HP-ku. Dengan demukian pembaca yang ragu-ragu atau hanya iseng saja bisa terseleksi dengan sendirinya. Terus terang apa yang mereka lakukan membuat hidupku tidak tenang dan terusik sekali.

Bisa dibayangkan, HP-ku berdering terus hampir tiap menitnya, sepanjang hari dan sepanjang malam, 24 jam sehari. Akibatnya pasien langgananku atau bahkan panggilan emergency dari Kebun Binatang Surabaya (KBS) tempatku bekerja, tidak dapat masuk karena HP-ku praktis dalam nada sibuk terus.

Dengan adanya kiatku yang baru ini untuk menyeleksi email yang masuk, maka kuharap para pembaca yang ingin berkenalan denganku lebih memakluminya. Mau tidak mau, suka tidak suka, aku saat ini sudah bagaikan seorang celebrity saja, walau hanya sebagai seorang celebrity di dunia maya saja.

*****

Kisahku kali ini kumulai dengan adanya acara trip ke hutan lindung Alas Purwo, Banyuwangi. KBS bekerja sama dengan Taman Safari Indonesia (TSI) II Prigen, Pasuruan mengadakan peninjauan ke habitat asli banteng (Bos Javanicus). banteng yang dimaksud adalah banteng ‘pantat putih’, jadi banteng sungguhan dan bukannya banteng ‘moncong putih’ yang merupakan lambang salah satu partai politik di tanah air.

Hampir semua kepala seksi bidang konservasi ikut trip ini, demikian pula dengan dokter hewannya. Walau masih muda dan junior, aku termasuk dalam rombongan dokter hewan yang ikut trip ini.

Pada hari yang telah ditentukan, kami berangkat dari KBS menuju TSI II menggunakan mobil inventaris KBS. Seharian kami mengikuti workshop di Prigen, Pasuruan. Baru pada malam harinya seluruh peserta bergabung menuju hutan lindung Alas Purwo di Banyuwangi, yang konon tempatnya terkenal angker, ini menurut cerita yang kudapat dari teman-teman yang lebih berpengalaman dariku.

Peserta yang ikut bukan hanya dari TSI dan KBS saja, di antaranya ada juga para pengamat satwa, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), wartawan media cetak maupun elektronik, bahkan juga beberapa orang pecinta satwa. Kami disediakan bus wisata milik TSI, namun ada juga beberapa wartawan maupun pecinta satwa yang membawa mobil sendiri, mungkin mereka ingin lebih bebas atau mungkin juga pulangnya nanti mereka tidak mau ikut rombongan.

Terasa sekali rasa kebersamaan kami saat itu. Dapat dibayangkan bagaimana serunya perjalanan kami, karena berkumpulnya wartawan maupun reporter TV yang ikut dari berbagai media di tanah air. Mereka datang dari berbagai daerah dan dari berbagai instansi media.

Kami duduk membaur dalam bus yang direncanakan akan tiba di hutan lindung Alas Purwo tepat pada dini hari saat matahari mulai terbit. Pada saat-saat itu biasanya para kawanan banteng mulai muncul untuk mencari makan rumput segar. Malam harinya banteng-banteng ini masuk ke dalam hutan dan pada pagi dan sore hari mereka biasa keluar merumput di padang sabana.

Pada malam harinya rombongan berangkat pukul 20.00 dari TSI. Kami beriring-iringan entah berapa mobil, tapi yang jelas busnya ada dua. Aku duduk di bus kedua di bangku agak paling belakang. Di sampingku duduk seorang wartawan dari Bandung, bernama Asep yang berusia 29 tahun, berarti setahun lebih muda dari aku.

Bangku panjang paling belakang di bus yang kutumpangi tidak ada penumpangnya karena dipakai untuk tempat tas, ransel dan peralatan kamera para wartawan foto. Jadi praktis posisi dudukku yang bersebelahan sebangku dengan Asep berada di deretan paling belakang.

Asep sejak awal sepertinya sudah menaruh perhatian padaku. Dapat kurasakan kalau dia memang sedang PDKT (pendekatan) denganku. Wajahnya lumayan dan masih bujangan. Awalnya aku memang cuek saja padanya, namun lama kelamaan timbul juga rasa simpatiku terhadap Asep.

Penampilanku malam itu mungkin juga membuat Asep lebih antusias untuk mendekatiku karena aku memakai hot pants pendek yang masuk kategori mini sekali. Lipatan bawahnya sangat tinggi sehingga lekuk antara bongkahan pantat dan pahaku dapat terlihat dengan sangat jelas. Demikian pula di bagian depannya, posisi ujung hot pants yang kukenakan posisinya lebih tinggi daripada pangkal selangkanganku sehingga memamerkan pahaku yang mulus dan sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus. Jika melihat bagian pahaku yang terbuka ini pasti akan membuat para peserta cowok menelan ludah. Untuk atasannya aku memakai T Shirt tanpa lengan yang lebih pantas disebut singlet seadngkan dalamannya tanpa BH sehingga lekuk payudaraku yang sintal terlihat dengan jelas, demikian pula dengan tonjolan puting susuku yang seakan tertekan oleh T Shirt yang kukenakan saat itu. Sebagai penutup T Shirtku yang sexy, kupakai semi jacket yang tidak terlalu tebal, yang terbuat dari bahan kain celana katun yang biasa dipakai kaum pria. Lumayan juga untuk mengusir rasa dingin AC bus yang kutumpangi malam itu.

Kendaraan rombongan berjalan tidak terlalu kencang karena memang sudah direncanakan untuk jalan santai-santai saja sehingga subuh baru masuk ke dalam hutan Lindung Alas Purwo. Mungkin karena sudah pada kelelahan karena seharian harus mengikuti workshop, juga keadaan sudah malam, jadi waktunya untuk istirahat, maka sebagian besar penumpang bus sudah pada tidur.

Aku dan Asep masih saja mengobrol bercerita tentang macam-macam, mulai dari masalah satwa, masalah pekerjaan dan profesi kami masing-masing hingga urusan yang paling pribadi. Hubungan kami menjadi lebih akrab dalam perjalanan malam itu, dan Asep juga sudah banyak mengeluarkan jurus-jurus rayuannya.

Pada tengah malam, suhu dalam bus mulai terasa lebih dingin. Asep berbaik hati meminjamkan jacketnya untuk menutupi pahaku yang mulai kedinginan. Saat menutupi pahaku dengan jacketnya, Asep sengaja sedikit mengelus pahaku sambil berkata..

“Nat! Pahamu mulus sekali lho!” Aku membalas elusan tangan Asep ke pahaku dengan cubitan sambil sedikit mengancam..
“Awas kalau berani macam-macam ya”.

Mendengar ancamanku, Asep bukannya takut dan mundur, tangan kanannya malah dengan sengaja diletakkannya di pangkuanku dari dalam jacket yang dipinjamkannya hingga telapak tangannya langsung menyentuh kulit pahaku. Awalnya hanya diletakkan dan diam begitu saja hingga aku pun tidak berkeberatan. Posisi dudukku di sebelah kanan dekat jendela bus, dan Asep disebelah kiriku dan tangan kanannya diletakkan di pangkuan paha kiriku.

Aku pun mulai mencoba memejamkan mata untuk berusaha tidur, tapi terus terang keberadaan tangan Asep di pahaku membuat darah mudaku mengalir sedikit lebih cepat daripada biasanya. Rupanya Asep tidak diam begitu saja, tangannya kurasakan mulai mengelus pahaku. Awalnya hanya seakan tidak sengaja bergerak karena terguncang oleh guncangan bus, namun lama-kelamaan kurasakan sudah menjadi suatu rabaan yang membawa rangsangan di pahaku.

Aku tetap tidak memberikan reaksi sambil tetap berpura-pura tidur. Melihatku tidak menunjukkan aksi penolakan maka rabaannya semakin berani. Sekarang bahkan lebih mengarah ke atas ke bagian pangkal pahaku. Jari-jarinya juga mengelus bagian dalam pangkal pahaku hingga aku pun mulai horny. Apa lagi saat jari-jari tangan kanan Asep sudah semakin berani menyusup ke dalam lipatan hot pants-ku yang mini ini, karena di dalamnya aku hanya memakai CD model G String yang mini pula hingga ujung jarinya dapat langsung menyentuh bagian luar bibir vaginaku yang ditumbuhi bulu-bulu halus kemaluanku.

Aku saat ini memang sedang memakai CD model G String yang hanya terbuat dari seutas nylon melingkar di pinggangku, dengan ikatan di kanan dan kiri pinggang. Selebihnya dengan sejenis tali nylon yang sama tersambung di belakang pinggang melilit turun melingkari selangkanganku melalui belahan pantatku. Hanya di bagian depan saja terbuat dari secarik kain berbentuk segi tiga yang lebarnya tidak lebih dari seukuran dua jari yang fungsinya hanya dapat menutupi bagian luar lubang masuk liang vaginaku.

Dengan mudahnya jari-jari Asep berhasil menyusup masuk ke dalam hot pantsku dan langsung dapat menyentuh bibir bagian luar vaginaku. Aku merasa geli dan terangsang hingga ujung CD-ku terasa mulai lembab dan kakiku pun mulai bergeser, posisinya terbuka lebih lebar lagi dan kedua payudaraku juga bertambah keras karena nafsu birahiku yang sudah mulai merambat naik ke atas.

Situasi ini rupanya bisa dirasakan oleh Asep yang dengan serta merta langsung melepas kancing celanaku dan menurunkan gespernya ke bawah. Jarinya kini bukan hanya menyusup dari samping pangkal pahaku, tapi bahkan sudah langsung disusupkan dari atas, menyusup ke dalam segi tiga G Stringku dan langsung menyentuh bulu kemaluanku dan mendarat tepat di celah bagian atas lipatan vaginaku.

Ujung jarinya mencari-cari klitorisku yang hanya tersembul sedikit bagian ujung luarnya saja. Justru ujung bagian luar klitorisku yang tersembul keluar inilah yang bisa menimbulkan sensasi tersendiri saat tersentuh, dan ini memang yang sedang dicari oleh ujung jari Asep hingga begitu tersentuh oleh ujung jarinya, ujung klitorisku pun ditekannya sedikit dan dimain-mainkannya.

“Aa.. Aaff!” suaraku agak sedikit tertahan karena takut membuat teman yang lain akan terkejut dan terbangun.

Jari-jari Asep menyusup lebih ke bawah lagi, tepat di belahan bibir vaginaku. Digosoknya belahan bibir vaginaku yang sudah basah sejak tadi naik turun. Aku hanya mampu menggigit bagian bawah bibirku menahan ledakan dari dalam bagian bawah tubuhku.

Gesekan jari Asep semakin liar saja. Kini jarinya mulai ditusukkan ke dalam liang vaginaku sambil mengorek-ngorek bagaikan mata bor saja. Karena kondisinya yang sudah basah, jari Asep dapat dengan mudahnya masuk ke dalam liang vaginaku dan langsung menggaruk-garuk dinding bagian dalam vaginaku.

Gelombang orgasmeku akhirnya mengalir dengan derasnya menjebol pertahananku. Aku mengalami getaran yang dahsyat, badanku menggigil bagaikan orang yang tiba-tiba terserang kejang-kejang. Vaginaku mengedut beberapa kali beriringan dengan semburan cairanku yang keluar memenuhi liang senggamaku.

Akhirnya aku pun tertidur, dengan kondisi jari tangan Asep masih berada di dalam liang vaginaku sepanjang sisa perjalanan kami menuju hutan lindung Alas Purwo.

E N D

Ibu Bella

Awal aku mengenalnya pada saat dia mengundang perusahaan tempatku bekerja untuk memberikan penjelasan lengkap mengenai produk yang akan dipesannya.

Sebagai marketing, perusahaan mengutusku untuk menemuinya. Pada awal pertemuan siang itu, aku sama sekali tidak menduga bahwa Ibu Bella yang kutemui ternyata pemilik langsung perusahaan. Wajahnya cantik, kulitnya putih laksana pualam, tubuhnya tinggi langsing (Sekitar 175 cm) dengan dada yang menonjol indah. Dan pinggulnya yang dibalut span ketat membuat bentuk pinggangnya yang ramping kian mempesona, juga pantatnya wah.. sungguh sangat montok, bulat dan masih kencang.

Sepanjang pembicaraan dengannya, konsentrasiku tidak 100%, melihat gaya bicaranya yang intelek, gerakan bibirnya yang sensual saat sedang bicara, apalagi kalau sedang menunduk belahan buah dadanya nampak jelas, putih dan besar.

Di sofa yang berada di ruangannya yang mewah dan lux, kami akhirnya sepakat mengikat kontrak kerja. Sambil menunggu sekretaris Ibu Bella membuat kontrak kerja, kami mengobrol kesana-kemari bahkan sampai ke hal yang agak pribadi. Aku berani bicara kearah sana karena Ibu Bella sendiri yang memulai. Dari pembicaraan itu, baru kuketahui bahwa usianya baru 25 tahun, dia memegang jabatan direktur sekaligus pemilik perusahaan menggantikan almarhum suaminya yang meninggal karena kecelakaan pesawat.

"Pak gala sendiri umur berapa", bisiknya dengan nada mesra.
"Saya umur 26 tahun, Bu!" balasku.
"sudah berkeluarga", pertanyaannya semakin menjurus, aku sampai GR sendiri.
"Belum, Bu!"
Tanpa kutanya, Ibu Bella menerangkan bahwa sejak kematian suaminya setahun lalu, dia belum mendapatkan penggantinya.
"Ibu cantik, masih muda, saya rasa seribu lelaki akan berlomba mendapatkan Ibu bella", aku sedikit memujinya.
"Memang, ada benarnya juga yang Bapak Gala ucapkan, tapi mereka rata-rata juga mengincar kekayaan saya", nadanya sedikit merendah.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu, Ibu Bella bangkit berdiri membukakan pintu, ternyata sekretarisnya telah selesai membuat kontrak kerjanya.
"Kalau begitu, saya permisi pulang, Bu!, semoga kerjasama ini dapat bertahan dan saling menguntungkan", aku segera pamit dan mengulurkan tangan.
"Semoga saja", tangannya menyambut uluran tanganku.
"Terima kasih atas kunjungannya, Pak Gala."
Cukup lama kami bersalaman, aku merasakan kelembutan tangannya yang bagaikan sutera, namun sebentar kemudian aku segera menarik tanganku, takut dikira kurang ajar. Namun naluri laki-lakiku bekerja, dengan halus aku mulai merancang strategi mendekatinya.

"Oh ya, Bu Bella, sebelum saya lupa, sebagai perkenalan dan mengawali kerjasama kita, bagaimana kalau Ibu Bella saya undang untuk makan malam bersama", aku mulai memasang jerat.
"Terima kasih", jawabnya singkat.
"Mungkin lain waktu, saya hubungi Pak Gala, untuk tawaran ini."
"Saya tunggu, Bu.. permisi"
Aku tak mau mendesaknya lebih lanjut. Aku segera meninggalkan kantor Ibu Bella dengan sejuta pikiran menggelayuti benakku. Sepanjang perjalanan, aku selalu terbayang kecantikan wajahnya, postur tubuhnya yang ideal. Ah.. kayaknya semua kriteria cewek idaman ada padanya.

Tak terasa satu bulan sejak pertemuan itu, meskipun aku sering mampir ke tempat Ibu Bella dalam kurun waktu tersebut, tapi tidak kutemui tanda-tanda aku bisa mengajaknya sekedar Dinner. Meskipun hubunganku dengannya menjadi semakin akrab.

Menginjak bulan ke-2, akhirnya aku bisa mengajaknya keluar sekedar makan malam. Aku ingat sekali waktu itu malam Minggu, kami bagai sepasang kekasih, meskipun pada awalnya dia ngotot ingin menggunakan mobilnya yang mewah, akhirnya dia bersedia juga menggunakan mobil Katanaku yang bisa bikin perut mules.

Beberapa kali malam Minggu kami keluar, sungguh aku jadi bingung sendiri, aku hanya berani menggenggam jarinya saja, itupun aku gemetaran, degup-degup di jantungku terasa berdetak kencang padahal hubungan kami sudah sangat dekat, bahkan aku dan dia sama-sama saling memanggil nama saja, tanpa embel-embel Pak atau Bu.

Sampai pada malam Minggu yang kesekian kalinya, kuberanikan diri untuk memulainya, waktu itu kami di dalam bioskop. Dalam keremangan, aku menggenggam jarinya, kuelus dengan mesra, kelembutan jarinya mengantarkan desiran-desiran aneh di tubuhku, kucoba mencium tangannya pelan, tidak ada respon, kulepas jemari tangannya dengan lembut. Kurapatkan tubuhku dengan tubuhnya, kupandangi wajahnya yang sedang serius menatap layar bioskop.

Dengan keberanian yang kupaksakan, kukecup pipinya. Dia terkejut, sebentar memandangku. Aku berpikir pasti dia akan marah, tapi respon yang kuterima sungguh membuatku kaget. Dengan tiba-tiba dia memelukku, mulutnya yang mungil langsung menyambar mulutku dan melumatnya. Sekian detik aku terpana, tapi segera aku sadar dan balas melumat bibirnya, ciumannya makin ganas, lidah kami saling membelit mencoba menelusuri rongga mulut lawan. Sementara tangannya semakin kuat mencengkram bahuku. Aku mulai beraksi, tanganku bergerak merambat ke punggungnya, kuusap lembut punggungnya, bibirku yang terlepas menjalar ke lehernya yang jenjang dan putih, aku menggelitik belakang telinganya dengan lidahku.

"Bella, aku sayang kamu", kubisikkan kalimat mesra di telinganya.
"Gal, akupun sayang kamu", suaranya sedikit mendesah menahan birahinya yang mulai bangkit.
Dan saat tanganku menyusup ke dalam blousnya, erangannya semakin jelas terdengar. Aku merasakan kelembutan buah dadanya, kenyal. Kupilin halus putingnnya, sementara tanganku yang satunya menelusuri pinggangnya dan meremas-remas pinggulnya yang sangat bahenol.

Segera kubuka kancing blous bagian depannya, suasana bioskop yang gelap sangat kontras sekali dengan buah dadanya yang putih. Perlahan kukeluarkan buah dadanya dari branya, kini di depanku terpampang buah dadanya yang sangat indah, kucium dan kujilat belahannya, hidungku bersembunyi diantara belahan dadanya, lidahku yang basah dan hangat terus menciumi sekelilingnya perlahan naik hingga ke bagian putingnya. Kuhisap pelan putingnya yang masih mungil, kugigit lembut, kudorong dengan lidahku. Bella semakin meracau. Tanganya menekan kuat kepalaku saat putingnya kuhisap agak kuat. Sementara aku merasakan gerakan di celanaku semakin kuat, senjataku sudah menegang maksimal.

Tanganku yang satunya sudah bergerak ke pahanya, spannya kutarik ke atas hingga batang pahanya tampak mulus, putih. Kubelai, kupilin pahanya sementara mulutku mengisap terus puting buah dadanya kiri dan kanan. Dan saat jariku sampai di pangkal pahanya, aku menemukan celana dalamnya. Perlahan jari-jariku masuk lewat celah celana dalamnya, kugeser ke kiri, akhirnya jari-jariku menemukan rambut kemaluannya yang sangat lebat.

Dengan tak sabar, kugosokkan jariku di klitorisnya sementara mulutku masih asyik menjilati puting buah dadanya yang semakin mencuat ke atas pertanda gairahnya sudah memuncak, meskipun jari-jariku sedikit terhalang celana dalamnya tapi aku masih dapat menggesek klitorisnya, bahkan dengan cepat kumasukkan jariku ke dalam celahnya yang lembat, terasa agak basah. Jariku berputar-putar di dalamnya, sampai kutemukan tonjolan lembut bergerigi di dalam kemaluannya, kutekan dengan lembut G-spotnya itu, kekiri dan kekanan perlahan.

"Achh.. Gala.. aku sudah nggak tahan.. Terus Gal.. oh.." Suaranya makin keras, birahinya sudah dipuncak. Tangannya menekan kepalaku ke buah dadanya hingga aku sulit bernafas, sementara tangan yang satunya menekan tanganku yang di kemaluannya semakin dalam. Akhirnya kurasakan seluruh tubuhnya bergetar, kuhisap kuat puting susunya, kumasukkan jariku semakin dalam. "Ahh.. oh.. Gal.. aku ke..lu..ar.." Kurasakan jariku hangat dan basah. "Makasih Gal, sudah lama aku tak merasakan kenikmatan ini." Aku hanya bisa diam, menahan tegangnya senjataku yang belum terlampiaskan tapi rupanya Bella sangat pengertian. Dengan lincahnya dibukanya reitsleting celanaku, jari-jarinya mencari senjataku. Aku membantunya dengan menggerakan sedikit tubuhku. Saat tangannya mendapatkan apa yang dicarinya, sungguh reaksinya sangat hebat. "Oh.. besar sekali Gal.. aku suka.. aku suka barang yang besar.." Bella seperti anak kecil yang mendapatkan permen.

Senjataku yang sudah kaku perlahan dikocoknya, aku merasakan nikmat atas perlakuannya, sementara tangannya asyik mengocok batang senjataku, tangan satunya membuka kancing bajuku, mulutnya yang basah menciumi dadaku dan menjilati putingku, sesekali Bella menghisap putingku. Aliran darahku semakin panas, gairahku makin terbakar. Aku merasakan spermaku sudah mengumpul di ujung, sementara kepala senjataku semakin basah oleh pelumas yang keluar.

"Bella, aku sudah nggak tahan.."
"Tahan sebentar, Gal.."
Bella melepaskan jilatan lidahnya di dadaku dan langsung memasukkan senjataku ke dalam mulutnya, aku merasakan kuluman mulutnya yang hangat dan sempit. Kulihat mulutnya yang mungil sampai sesak oleh kemaluanku. Bella semakin kuat mengocok batang senjataku ke dalam mulutnya. Akhirnya kakiku sedikit mengejang untuk melepaskan spermaku. "Awas Bell, aku mau keluar.." kutarik rambutnya agar menjauh dari batang senjataku, tapi Bella malah memasukkan senjataku ke dalam mulutnya lebih dalam, aku tak tahan lagi, kulepaskan tembakanku, 7 kali denyutan cukup memenuhi mulutnya yang mungil dengan spermaku. Bella dengan lahap langsung menelannya dan membersihkan cairan yang tertinggal di kepala senjataku dengan lidahnya. Aku menarik nafas panjang mengatur degup jantungku yang tadi sangat cepat.

Setelah lampu menyala kembali pertanda pertunjukan telah usai, kami sudah rapi kembali. Kulihat jam di pergelangan tanganku menunjukan pukul 10.00 malam. Aku langsung mengantarnya pulang, dalam perjalanan kami tak banyak bicara, kami saling memikirkan kejadian yang baru saja kami alami bersama.

Sampai di rumahnya yang mewah di bilangan Pluit, aku langsung ditariknya menuju kamar pribadinya yang sangat luas. "Gal, saya belum puas, kita teruskan permainan yang tadi.." Tangannya langsung membuka kancing bajuku dan mulai membangkitkan gairahku, sementara pikiranku semakin bingung, kenapa Bella yang tadinya kalem bisa berubah ganas begini? Tapi pikiranku kalah dengan gairah yang mulai berkobar di dadaku, terlebih saat tangannya dengan lihai mengusap dadaku. Bagai musafir seluruh tubuhku dicium dan dijilatinya dengan penuh nafsu. Aku pun tak mau kalah sigap, di ranjangnya yang empuk kami bergulat saling memilin, melumat, dan saling menghisap.

Saat pakaian kami mulai tertanggal dari tempatnya. Kami saling melihat, aku melihat kesempurnaan tubuhnya, apalagi di daerah selangkangannya yang putih bersih, sangat kontras dengan bulu kemaluannya yang sangat hitam dan lebat. Dan Bella memandangi senjataku yang mengacung menunjuk langit-langit kamar. Hanya sebentar kami berpandangan, aku langsung meraih tubuhnya dan memapahnya ke ranjang. Kuletakkan hati-hati tubuhnya yang gempal dan lembut, aku mulai menciumi seluruh tubuhnya, lidahku menari-nari dari leher sampai ke jari-jari kakinya. Kuhisap puting buah dadanya yang kemerahan, kujilat dan sesekali kugigit mesra. Ssementara tanganku yang lain meremas-remas pinggul dan pantatnya yang sangat kenyal.

Pergulatan kami semakin seru, kini posisi kami berbalikan seperti angka 69, kami saling menghisap puting dada. Saat aku memainkan puting dadanya yang sudah mencuat, lidahnya menjilati putingku. Aku turun menjilati perutnya, kurasakan juga perutku dijilati dan akhirnya lidah kami saling menghisap kemaluan.

Aku merasakan hangat di kepala senjataku saat lidahku menari-nari menelusuri celah kemaluannya, lidahku semakin dalam masuk ke dalam celah kewanitaannya yang telah basah, kuhisap klitorisnya kuat-kuat, kurasakan tubuhnya bergetar hebat.

Lima belas menit sudah kami saling menghisap, nafsuku yang sudah di ubun-ubun menuntut penyelesaian. Segera aku membalikkan tubuhku. Kini kami kembali saling melumat bibir, sementara senjataku yang sudah basah oleh liurnya kuarahkan ke celah pahanya, sekuat tenaga aku mendorongnya namun sulit sekali. Tubuh kami sudah bersimbah peluh. Akhirnya tak sabar tangan Bella memandu senjataku, setelah sampai di pintu kemaluannya, kutekan kuat, Bella membuka pahanya lebar-lebar dan senjataku melesak ke dalam kemaluannya. Kepala senjataku sudah berada di dalam celahnya, hangat dan menggigit. Kutahan pantatku, aku menikmati remasan kemaluannya di batanganku. Perlahan kutekan pantatku, senjataku amblas sedalam-dalamnya. Gigi Bella yang runcing tertancap di lenganku saat aku mulai menaikturunkan pantatku dengan gerakan teratur.

Remasan dan gigitan liang kewanitaannya di seluruh batang senjataku terasa sangat nikmat. Kubalikan tubuhnya, kini tubuh Bella menghadap ke samping. Senjataku menghujam semakin dalam, kuangkat sebelah kakinya ke pundakku. Batang senjataku amblas sampai mentok di mulut rahimnya. Puas dari samping, tanpa mencabut senjataku, kuangkat tubuhnya, dengan gerakan elastis kini aku menghajarnya dari belakang. Tanganku meremas bongkahan pantatnya dengan kuat, sementara senjataku keluar masuk semakin cepat. Erangan dan rintihan yang tak jelas terdengar lirih, membuat semangatku semakin bertambah. Ketika kurasakan ada yang mau keluar dari kemaluanku, segera kucabut senjataku. "Pllop.." terdengar suara saat senjataku kucabut, mungkin karena ketatnya lubang kemaluan Bella mencengkram senjataku. "Achh, kenapa Gal.. aku sedikit lagi", protes Bella. Dia langsung mendorong tubuhku, kini aku telentang di bawah, dengan sigap Bella meraih senjataku dan memasukkannya ke dalam lubang sorganya sambil berjongkok.

Kini Bella dengan buasnya menaikturunkan pantatnya, sementara aku di bawah sudah tak sanggup rasanya menahan nikmat yang kuterima dari gerakan Bella, apalagi saat pinggulnya sambil naik-turun digoyangkan juga diputar-putar, aku bertahan sekuat mungkin.

Satu jam sudah berlalu, kulihat Bella semakin cepat bergerak, cepat hingga akhirnya aku merasakan semburan hangat di senjataku saat tubuhnya bergetar dan mulutnya meracau panjang. "Oh.. aku puas Gal, sangat puas.." tubuhnya tengkurap di atas tubuhku, namun senjataku yang sudah berdenyut-denyut belum tercabut dari kemaluannya. Kurasakan buah dadanya yang montok menekan tubuhku seirama dengan tarikan nafasnya.

Setelah beberapa saat, aku sudah merasakan air maniku tidak jadi keluar, segera kubalikkan tubuhnya kembali. Kini dengan gaya konvensional aku mencoba meraih puncak kenikmatan, kemaluannya yang agak basah tidak mengurangi kenikmatan. Aku terus menggerakkan tubuhku. Perlahan gairahnya kembali bangkit, terlebih saat batang senjataku mengorek-ngorek lubang kemaluannya kadang sedikit kuangkat pantatku agar G-spotnya tersentuh. Kini pinggul Bella yang seksi mulai bergoyang seirama dengan gerakan pantatku. Jari-jarinya yang lentik mengusap dadaku, putingku dipilin-pilinnya, hingga sensasi yang kurasakan tambah gila.

Setengah jam sudah aku bertahan dengan gaya konvensional. Perlahan aku mulai merasakan cairanku sudah kembali ke ujung kepala senjataku. Saat gerakanku sudah tak beraturan lagi, berbarengan dengan hisapan Bella pada putingku dan pitingan kakinya di pinggangku, kusemprotkan air maniku ke dalam kemaluannya, kami berbarengan orgasme.

Sejak kejadian itu, kami sering melakukannya. Aku baru tahu bahwa gairahnya sangat tinggi, selama ini dia bersikap alim, karena tidak mau sembarangan main dengan cowok. Dia mau denganku karena aku sabar, baik dan tidak mengejar kekayaannya. Apalagi begitu dia tahu bahwa senjataku dua kali lipat mantan suaminya, tambah lengket saja. Memang yang kukejar hanyalah kenikmatan dunia yang didasari Cinta. Kalau harta sih, ada sukur, nggak ada ya.. cari dong.
Saran, komentar, kritik kirim aja ke email saya.